Islamic Widget

Senin, 31 Januari 2011

KIAT-KIAT MENGKODISIKAN ANAK MENGHADAPI UASBN

Auditorium SD Islam Dian Didaktika
Sabtu, 29 Januari 2011
Angkatan 20

Sekitar 4 bulan menjelang UASBN, seperti pada tahun-tahun sebelumnya, kami mengajak orang tua murid untuk bekerjasama mempersiapkan ananda menghadapi ujian. Dan tahun ini adalah tahun kedua  Kepala Sekolah menyampaikan Kiat-Kiat Praktis  Mengkondisikan Anak Menghadapi UASBN selain informasi lain yang bersifat teknis berkaitan dengan pelaksanaan ujian. Hadirnya sekitar 100 orang tua murid pada acara kali ini menunjukan demikian besarnya antusiasme orang tua murid untuk  mendukung putra-putrinya menghadapi ujian pada  10,11 & 12 bulan Mei  nanti. Semoga Allah SWT meridhoi. Dan berikut ini adalah kiat-kiat tersebut:

1.    Kondisikan anak secara psikologis agar selalu tenang, tidak panik dan tidak menjadikan   UASBN sebagai beban. Membangkitkan kesadaran dan kedewasaan diri bahwa mempersiapkan diri menghadapi UASBN adalah sama dengan menentukan masa depannya sendiri.
2.    Yakinkan kepada anak bahwa UASBN merupakan hal biasa yang harus dihadapi oleh setiap siswa. Dan akan mampu melaluinya bila jika ada kesadaran dari dirinya untuk belajar tekun.
3.   Upayakan orang tua dapat menciptakan iklim rutinitas kehidupan anak dengan hal-hal yang menyenangkan.
4.    Hindari anak dari aktivitas rutin yang sekiranya dapat menurunkan tingkat kesehatan dan keselamatannya menjelang datangnya waktu UASBN.
5.   Deteksi pola perilaku anak selama berada disekolah agar tidak memiliki konflik dengan teman-temannya.
6.    Bantu anak dalam memecahkan masalah pribadi ( musuh disekolah, masa puber ) dengan cara mengajak berbicara secara terbuka dan demokratis.
7.    Dampingi dan kontrol kualitas belajar mandiri anak selama berada di lingkungan rumah.
8.   Tidak memaksakan anak belajar dengan menambah waktu belajar yang tidak proporsional.
9.    Tidak merendahkan, memojokkan atau membandingkan anak secara berlebihan sehingga malah membuat percaya diri anak menjadi turun.
10. Jauhkan / hindari anak dari masalah atau perpecahan orang tuanya.
11. Ajak anak sholat Dhuha dan sholat 5 waktu, berdo’a secara khusus untuk keberhasilan dalam UASBN.
12. Bantu anak dengan dukungan  ibadah  ruhiyah ( sholat Dhuha, puasa Senin-Kamis,Qiyamullail) dari kedua orang tuanya. 

Referensi: Tulisan Drs. Otib Satibi Hidayat, M.Pd

Selasa, 28 Desember 2010

APA YANG DILAKUKAN SEKOLAH-SEKOLAH YANG EFEKTIF?

 1. Perekrutan Guru yang Berkualitas.
  •  Sekolah memiliki otonomi dalam  perekrutan guru.
  •  Mengiklankan dan memilih  guru yang terbaik.
  •  Melatih sendiri dengan bekerjasama dengan lembaga  pendidikan yang kredibel.
  •  Melatih, memonitor dan mendukung guru baru.
  •  Menyediakan pengembangan profesi yang terarah dan      kesempatan pengembangan karir. 
    2. Meningkatkan Kualitas Proses Belajar
•Menyediakan lingkungan belajar yang merangsang anak untuk belajar.
•Menyediakan kurikulum yang terencana dengan sangat baik .
•Memiliki harapan yang tinggi dalam belajar dan mengajar.
•Memonitor kualitas pembelajaran dan kinerja guru.
•Memfokuskan pengembangan profesi yang  dapat meningkatkan pengajaran.
•Meminta pendapat siswa dan orang tua.
3.Mendorong Kesuksesan Bagi Setiap Siswa
•Menciptakan budaya yang mengharapkan kesuksesan.
•Membuat belajar menjadi spesifik .
•Menilai dan memantau progres setiap siswa dengan memberi target belajar dan dukungan jika dibutuhkan.
•Mengevaluasi kualitas dan efektifitas atas segala hal yang telah dilakukan sekolah secara berkesinambungan.
•Bekerja sebagai tim yang konsisten.
•Belajar dari sekolah lain.
Dikutip dari materi workshop yang diikuti penulis pada "Pedagogical Leadership Workshop," 27/12/2010 
oleh Ratih Saraswati Ka.KB/TK/SD Sekolah Ciputra Surabaya.

Selasa, 14 Desember 2010

PROFESI GURU

Makna Guru sebagai Profesi :
1. Mensyaratkan kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan tertentu ( S1 ).
2. Mensyaratkan standar kompetensi tertentu :
                      a. Kompetensi pedagogis.
                      b. Kompetensi kepribadian.
                      c. Kompetensi sosial.
                      d. Kompetensi profesional.
3. Menuntut bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme.
4. Merupakan pekerjaan yang menuntut hak sekaligus kewajiban.
5. Memberikan penghasilan yang cukup (menghidupi).
6. Memiliki / memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas profesionalnya.
7. Memiliki kode etik profesi.
8. Memiliki organisasi yang berbadan hukum.

Identifikasi kegagalan guru :
1. Gagal untuk memenuhi standar yang ditetapkan.
2. Tergambar / diilustrasikan dengan:
                   a. Rendahnya prestasi siswa.
                   b. Ketidakmampuan untuk mengendalikan siswa.
                   c. Kegagalan untuk mengevaluasi tugas, tes dan ujian siswa.
                   d. Kurang siap dalam memberikan pelajaran.
3. Adanya keluhan terus menerus dari guru-guru lain, orang tua siswa dan masyarakat.
4. Rendahya tingkat kehadiran dan komitmen.

Hai! rekan-rekan guru, bercermin yuk...!

Disarikan dari : Pelatihan guru/kepala sekolah di Graha Insan Cita, Nov./2010

Selasa, 30 November 2010

MATHEMATIC, SCIENTIFIC DAN CULTURAL LITERACY

Alhamdulillah meskipun melelahkan, siswa kami kelas 4 dan 5  SD Islam Dian Didaktika, Cinere, Depok pada 14 dan 27 November 2010 telah sukses melaksanakan kegiatan Pentas Seni dengan judul " Jampang Jagoan Betawi " dan " Opera Joko Tingkir ". Kami para guru berharap kegiatan ini menjadi salah satu media pembelajaran yang efektif dan bekal bagi anak-anak. Terima kasih dan sukses untuk seluruh tim guru kelas 4 dan 5.Selamat!

Berikut ini adalah salah satu tulisan yang dapat menjadi referensi bagi para guru bagaimana menyikapi pembelajaran Seni di sekolah.

' Mathematic, Scientific & Cultural Literacy '

Tak Usah terdikotomi antara berbagai mata pelajaran, mana yang lebih penting dari pada yang lain. Mana yang lebih prestise dari yang lain, dan seterusnya. Itu perdebatan usang yang dalam paradigma baru sudah tidak berlaku. Untuk menghindari spesialisasi yang sempit, dalam bukunya Pendidikan Antisipatoris, Muchtar Buchori, menuliskan tentang  informasi terakhir dari James Trevil dari Goerge Mason University, Virginia.
Dikatakan bahwa dalam era yang ditandai oleh perubahan serba cepat disemua aspek kehidupan, adalah keharusan bagi siapapun untuk memiliki Cultural Literacy & Scientific Literacy. 

Cultural Literacy atau melek budaya adalah seperangkat pengetahuan umum atau ingatan kolektif yang terdapat pada suatu masyarakat, yang harus dimiliki oleh setiap orang yang terdidik.
Disadari atau tidak sering terjadi penyekatan pengetahuan. Para scientist dan humanis terbagi dalam dua budaya yang tidak saling memahami. Padahal sebenarnya keduanya bisa saling kreatif bila menguasai bahasa yang sama yaitu 'peradaban'.

Peradaban sangat bisa dicapai melalui proses berlatih berkesenian dan mengenal budaya, karena tujuan yang hendak dicapai adalah sebuah harmoni. Pembelajaran secara holistik akan menyelamatkan tata aturan manusia dengan dirinya, sesama dan dengan ciptaan Tuhan lainnya. Studi tentang Matematika, Sains dan Teknologi tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial, seni dan budaya.

Tentu kita ingin mengantarkan anak-anak ke masa depannya nanti dengan keseimbangan dan harmoni. Kalau begitu jangan pernah mementingkan satu pelajaran dibandingkan yang lain. Kalau UASBN dan Ujian Nasional hanya menilai siswa dengan mata pelajaran tertentu, kini kita paham bahwa materi lain tidak bisa saling dipisahkan dan menjadi tidak penting. Setuju? semoga.

Sumber: techers guide v.02/06.08

Minggu, 10 Oktober 2010

BERSAMA MERETAS HARAPAN MEMBANGUN BUDAYA & KARAKTER BANGSA, KEWIRAUSAHAAN DAN EKONOMI KREATIF MELALUI BELAJAR AKTIF


 
Keprihatinan terhadap kondisi bangsa , terutama akhlak dan budi pekerti, sama-sama kita rasakan sekarang ini. Berita mengenai korupsi, perilaku negatif oknum  pejabat pemerintahan, konflik / tawuran antar kampung atau antar sekolah, penyalahgunaan narkoba sampai pergaulan bebas menjadikan kekhawatiran kita bertambah sebagai guru dan orang tua terhadap masa depan anak-anak kita. Berkaitan dengan hal tersebut pada Selasa-Rabu, 28-29 September 2010 hadir bersama di Auditorium Dian DIdaktika 17 SD dari berbagai Kabupaten/Kota di Indonesia untuk mengadakan studi banding/magang bagaimana penerapan nilai-nilai Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa Melalui Belajar Aktif di Sekolah Dasar Islam Dian Didaktika, Cinere-Depok yang difasilitasi oleh Kementrian Pendidikan Nasional, Pusat Kurikulum. 
Sekolah  yang mengikuti kegiatan ini berjumlah : 18 ( 17 SD dan 1 SMP ).

1.    SDN 44 Ampenan, Mataram.
Jl. Danau Paniai No. 1 Mataram, Nusa Tenggara Barat.
2.    SDN 004 Balik Papan Utara, Kalimantan Timur.
3.    SDN 114 Sako, Palembang, Sumatera Selatan.
4.    SDN 2 Gandapura, Kabupaten Bireun, Aceh.
5.    SDN 04 Birugo, Bukit Tinggi, Sumatera Barat.
6.    SDN 10 Pangkal Pinang, Bangka Belitung.
7.    SDN Sompok 01, Semarang.
Jl. Sompok Baru No. 87, Semarang, Jawa Tengah.
8.    SDN 30, Manado.
9.    SDN Pacinongan, Gowa, Sulawesi Selatan
10. SDN Centre Mangalli, Gowa, Sulawesi Selatan
11. SDN Kasihan, Bantul, Yogyakarta.
12. SDN Sayegan, Pundong 1, Bantul, Yogyakarta.
13. SDN 42/IX Sakean, Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi,Jambi.
14. SDN No. 005 Tanjung Pinang Timur.
Jl. Sultan Sulaiman Km 5, Kepulauan Riau.
15. SDN No. 015, Bukit Bestari.
Jl. MT  Haryono Km. 3,5, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.
16. SDN Kepuh Kiriman 1, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur.
17. SDN Sedati Gede II, Kecamatan Sedati.
Kabupaten Sidorajo, Jawa Timur.
18. SMP Al Falah, Delta Sari, Waru.
Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Add caption

Budaya diartikan sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan (belief) manusia yang dihasilkan masyarakat.
Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang  terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakininya dan digunakannya sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan pendidikan adalah suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik.
Pendidikan budaya dan karakter bangsa adalah usaha bersama sekolah dan oleh karenanya dilakukan secara bersama oleh semua guru dan pimpinan sekolah, melalui semua mata pelajaran, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya sekolah.

Ada 18 nilai yang diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
Berikut adalah nilai-nilai yang dikembangkan dalam Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa:
  1. Religius                                     
  2. Jujur
  3. Toleransi
  4. Disiplin
  5. Kerja Keras
  6. Kreatif
  7. Mandiri
  8. Demokratis
  9. Rasa Ingin Tahu
  10. Semangat Kebangsaan
  11.  Cinta Tanah Air
  12. Menghargai Prestasi
  13. Bersahabat/Komuniktif
  14. Cinta Damai
  15. Gemar Membaca
  16. Peduli Lingkungan
  17.  Peduli Sosial
  18.  Tanggung-jawab
                     

Selanjutnya karena muatan kurikulum di sekolah sudah cukup banyak, maka pengintegrasian nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa di sekolah yaitu :
a)    Berkelanjutan (melalui pembiasaan & keteladanan)
b)    Terintegrasi dalam  setiap mata  pelajaran
c)    Nilai tidak diajarkan tetapi dikembangkan
d)    Proses pendidikan dilakukan siswa secara aktif dan menyenangkan
                            

Alhamdulillah acara selama 2 hari yang dibuka oleh Ibu Tatik Wijayati, M.Pd (Kasie Bina Lembaga Dinas Pendidikan Kota Depok) dan juga dihadiri oleh Kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Cinere berjalan dengan lancar. Pada kesempatan yang sama Ketua Umum Yayasan Dian Didaktika Ibu Dra. Hj. Nunuk Murdiati Sulastomo menyampaikan bahwa keluarga besar Dian Didaktika bersyukur dan wellcome terhadap kegiatan ini, karena sejak awal pendiriannya Dian Didaktika sudah concern terhadap pentingnya pendidikan Budi Pekerti. Semoga kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat sebanyak-banyaknya untuk kemajuan pendidikan di Indonesia, Amiin.
Berikut ini beberapa kesan dan pesan dari peserta terhadap kegiatan tersebut :

PUISIKU UNTUKMU

IBU SUTIANA, SDN SEDATI GEDE II, SIDOARJO, JAWA TIMUR
Rabu, 29 September 2010


Kalau aku merantau
Lalu datang padamu
Dalam hati kesejukan
Senyum cantik menyingsing dari bibirmu
Yang tetap kukenang dalam hidupku


Kalau aku merantau
Aku meronta pada semangatmu
Di SD Islam Dian Didaktika inilah
Ada mayang sari yang memutikkan sari-sari kerinduan
Lantaran aku menemukan nilai-nilai kesopanan dan mutiara hati dalam pertapaanmu


Nilai dan mutiara inilah yang tertanam dihatiku…
Kenang-kenanglah aku Ibu …
Yang hanya menaburkan benih cinta kasih yang tulus
Tidak bisa membalas apapun
Dari lubuk hati yang dalam
Maaf-maaflah aku jika terselip kesalahan
Tetesan air mataku untukmu
Semoga…





Suratmi, S.Pd ( Kepala SDN 04 Balik Papan Utara, Kalimantan Timur ) :
“ Saya sebelumnya tak pernah membayangkan keadaan sekolah ini. Ternyata setelah melihat langsung, saya sebagai guru yang sudah bertugas selama sekitar 27 tahun tidak ada apa-apanya. Dari kunjungan selama 2 hari banyak sekali ilmu yang saya peroleh. Melihat kondisi sekolah, para guru dan siswa semua menyenangkan. Mudah-mudahan ilmu yang saya peroleh disini dapat saya terapkan dan dapat merubah cara pembelajaran saya sebelumnya dan dapat saya informasikan ke teman-teman guru di sekolah”.
Femmy Onibala, S.Pd ( Kepala SDN 30 Manado ):
“ Syukur kepada Tuhan karena diberi kesempatan untuk menimba ilmu di SDI Dian Didaktika. Dan nampak keberhasilan penerapan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa, Kewirausahaan & Ekonomi Kreatif Melalui Belajar Aktif di SD ini nyata dan terintegrasi “.

Sholeh, S.Pd ( SDN 42/IX Sakean, Kumpeh Ulu, Muaro Jambi, Jambi ) :
“ Lingkungan SDI Dian Didaktika secara utuh adalah salah satu SD Best Practise yang sangat mengesankan dalam penerapan pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa “.

Masdalina Raimar, S.Pd ( SDN Tanjung Pinang, Kepulauan Riau ):
“ Bagi saya sekolah yang Ibu pimpin sangat luar biasa, kami sangat terkesan sekali dengan penyambutan yang diberikan kepada kami, sangat santun dan ramah, baik yayasan, guru, staf dan siswanya “.

            



Minggu, 15 Agustus 2010

PARENTS CONFERENCE

Acara ini biasanya digelar diawal tahun pelajaran, sebagai wujud kesiapan sekolah ditahun ajaran yang baru. Sekolah akan mengundang orang tua murid untuk hadir ke sekolah mendapatkan informasi langsung tentang program sekolah oleh principal. Di tahun ajaran baru  2010-2011 SDI Dian Didaktika tidak hanya melakukan perubahan yang bersifat fisik saja seperti seragam guru, penataan lingkungan sekolah, penataan kelas dan pengecatan, akan tetapi juga melakukan perubahan yang terkait mutu sekolah yaitu peningkatan kwalitas SDM dan content pengajaran. Disisi SDM yaitu aneka pelatihan, team work, leadership, mutasi guru yang dilakukan berdasarkan evaluasi kinerja, recruitment, pemberlakuan sistem kerja dsb. Sedangkan dari sisi content yaitu penguatan proses kegiatan pembelajaran yang variatif dan efektif, perubahan tema belajar serta penguatan ciri khas sekolah. Disini letak perbedaan antara sekolah yang maju dengan yang jalan di tempat. Sekolah pada umumnya sibuk menyediakan berbagai bentuk penyeragaman seperti baju, kaos, topi, buku, pin dsb, maka sekolah yang maju akan lebih fokus pada penyempurnaan software sekolah yaitu SDM dan content pengajaran.




Tahun ajaran baru adalah semangat baru. Proses belajar mengajarpun direncanakan makin menyenangkan dan efektif mencapai target-target kurikulum. Hal tersebut dilakukan setelah melalui tahap pembekalan guru melalui pelatihan, pembenahan kurikulum dan rapat kerja guru. Diacara parent conference atau biasa disebut open house seluruh wali kelas di SDI Dian Didaktika juga mengajak para orang tua untuk melakukan simulasi kegiatan pembelajaran di kelas masing-masing pada kegiatan parents as a learner. Disini Bapak/Ibu guru menapilkan kepiawaiannya mengajar dan melakukan presentasi. Jadi open house adalah selling by your self. Karena kesiapan guru tentu saja menjadi barometer kesiapan sekolah. Maju terus Dian Didaktika !
(dari kegiatan Open House SDI Dian Didaktika 17 & 24 Juli 2010)

Senin, 19 Juli 2010

Semangat dan Harapan

Memelihara semangat dan harapan untuk terus menjadi lebih baik ditahun-tahun mendatang. Semangat kebersamaan, adalah awal dari sebuah kesuksesan. Tak ada yang dapat memainkan simfoni seorang diri, dibutuhkan sebuah orkestra untuk memainkannya. Seperti menghadapi tantangan, diperlukan keberanian dan kecekatan untuk memainkannya.Dan sebuah tim yang sukses adalah sebuah kelompok dengan banyak tangan namun satu pikiran. Datang bersama adalah sebuah awal, tetap bersama adalah suatu kemajuan, bekerjasama adalah sebuah keberhasilan.
( Dari : N. Singh, Bill Bethel, Henry Ford )


Salah satu dari sekian rangkaian upaya yang telah kami lakukan bersama, semoga Allah SWT meridhoi, Amiin.